Minggu, 13 September 2009

AR-RAHMAN

Bismillah....
Tuhan Yang Maha Pemurah,yang telah mengajarkan Al-Quran,Dia menciptakan manusia,mengajarkannya pandai berbicara,matahari dan bulan beredar menurut perhitungan,dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya,dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca ,supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu..Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan jangan kamu mengurangi neraca itu,dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk,dibumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang,dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya,maka ni'mat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?

Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar,dan Dia menciptakan jin dari nyala api,maka ni'mat Tuhan manakah yang kamu dustakan?Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya,maka ni'mat Tuhan mana kamu dustakan?.........

Mencintai Allah adalah tujuan paling jauh dari semua maqam dan puncak tertinggi dari tingkat pendakian jiwa.Tak ada lagi jenjang setelahnya melainkan hanya buah-buah dari cinta tersebut seperti rindu,betah berlama-lama,dan ridha.

Mahabbah yang paling wajib dan paling bermanfaat secara mutlak serta yang paling tinggi dan utama yalah mahabbahnya orang yang hatinya terpateri oleh rasa cinta kepadaNya dan yang jiwanya dibentuk oleh sikap hanya mentuhankan Dia saja.Dan ibadah tidak bisa disebut baik kecuali jika hanya ditujukan kepada_Nya semata,karena ibadah adalah kesempurnaan cinta,yang disertai kesempurnaan tunduk dan merendahkan diri.

Ampuniku ya Allah yang sering melupakanmu.......

"segala nikmat yang ada padamu berasal dari Allah,kemudian tatkala kamu ditimpa kemadhratan,maka kepada_Nya_lah kamu meminta pertolongan"

Segala kebaikan Allah turun kepada si hamba sementara si hamba justru berbuat menentang kepada_Nya.Allah mencurahkan cinta_Nya kepada si hamba,dengan menganugrahkan nikmat yang tiada terhingga,namun sang hamba justru sebaliknya.Ia menampakkan kebencian kepadaNya dengan cara berbuat maksiat,padahal ia butuh kepada Allah.

Dia taburkan rahmat kepadanya,sementara si hamba sendiri tidak sayang kepada dirinya sendiri.Dengan segala nikmat dan kebaikan-Nya,Dia mengajak si hamba kepada kemuliaan dan keridhoann-Nya,namun si hamba menolaknya...Allahuu...Allahuu...Allahuu....

"Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, ia akan kuberi Dan barangsiapa yang meminta ampun kepada-Ku akan Ku ampuni...."

Mahabbah kepada Allah A"zza wa Jalla adalah tanda hidupnya kalbu,merupakan santapan ruh,tak ada kelezatan dan kenikmatan serta kebahagiaan dan kehidupan dalam hati bila tak ada mahabbah kepadaNya.Ruasaknya kalbu adalal lebih berat dan lebih dahsyat ketimbang rusaknya badan yang ditinggalkan nyawa......

Selasa, 26 Mei 2009

"Istri Rasulullah...

Category: Books
Genre: Religion & Spirituality
Author: Muqarrar Al-Mustawa Ats Tsalits
Beliau adalah seorang sayyidah wanita sedunia pada zamannya. Dia adalah putri dari Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah. Dijuluki ath-Thahirah yakni yang bersih dan suci. Sayyidah Quraisy ini dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat kira-kira 15 tahun sebelum tahun fill (tahun gajah). Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia dan pada gilirannya beliau menjadi seorang wanita yang cerdas dan agung. Beliau dikenal sebagai seorang yang teguh dan cerdik dan memiliki perangai yang luhur. Karena itulah banyak laki-laki dari kaumnya menaruh simpati kepadanya.
Pada mulanya beliau dinikahi oleh Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi yang membuahkan dua orang anak yang bernama Halah dan Hindun.Tatkala Abu Halah wafat, beliau dinikahi oleh Atiq bin 'A'id bin Abdullah al-Makhzumi hingga beberapa waktu lamanya namun akhirnya mereka cerai.

Setelah itu banyak dari para pemuka-pemuka Quraisy yang menginginkan beliau tetapi beliau memprioritaskan perhatiannya dalam mendidik putra-putrinya, juga sibuk mengurusi perniagaan yang mana beliau menjadi seorang yang kaya raya. Suatu ketika, beliau mencari orang yang dapat menjual dagangannya, maka tatkala beliau mendengar tentang Muhammad sebelum bi'tsah (diangkat menjadi Nabi), yang memiliki sifat jujur, amanah dan berakhlak mulia, maka beliau meminta kepada Muhammad untuk menjualkan dagangannya bersama seorang pembantunya yang bernama Maisarah. Beliau memberikan barang dagangan kepada Muhammad melebihi dari apa yang dibawa oleh selainnya. Muhammad al-Amin pun menyetujuinya dan berangkatlah beliau bersama Maisarah dan Allah menjadikan perdagangannya tersebut menghasilkan laba yang banyak. Khadijah merasa gembira dengan hasil yang banyak tersebut karena usaha dari Muhammad, akan tetapi ketakjubannya terhadap kepribadian Muhammad lebih besar dan lebih mendalam dari semua itu. Maka mulailah muncul perasaan-perasaan aneh yang berbaur dibenaknya, yang belum pernah beliau rasakan sebelumnya. Pemuda ini tidak sebagaimana kebanyakan laki-laki lain dan perasaan-perasaan yang lain.


Akan tetapi dia merasa pesimis; mungkinkah pemuda tersebut mau menikahinya, mengingat umurnya Khodijah yang lebih tua dibanding umur Muhammad. Apa nanti kata orang karena ia telah menutup pintu bagi para pemuka Quraisy yang melamarnya?

Maka disaat dia bingung dan gelisah karena problem yang menggelayuti pikirannya, tiba-tiba muncullah seorang temannya yang bernama Nafisah binti Munabbih, selanjutnya dia ikut duduk dan berdialog hingga kecerdikan Nafisah mampu menyibak rahasia yang disembuyikan oleh Khadijah tentang problem yang dihadapi dalam kehidupannya. Nafisah membesarkan hati Khadijah dan menenangkan perasaannya dengan mengatakan bahwa Khadijah adalah seorang wanita yang memiliki martabat, keturunan orang terhormat, memiliki harta dan berparas cantik.Terbukti dengan banyaknya para pemuka Quraisy yang melamarnya.

Selanjutnya, tatkala Nafisah keluar dari rumah Khadijah, dia langsung menemui Muhammad al-Amin hingga terjadilah dialog yang menunjukan kelihaian dan kecerdikannya:

Nafisah : Apakah yang menghalangimu untuk menikah wahai Muhammad?
Muhammad : Aku tidak memiliki apa-apa untuk menikah .
Nafisah : (Dengan tersenyum berkata) Jika aku pilihkan untukmu seorang wanita yang kaya raya, cantik dan berkecukupan, maka apakah kamu mau menerimanya?
Muhammad : Siapa dia ?
Nafisah : (Dengan cepat dia menjawab) Dia adalah Khadijah binti Khuwailid
Muhammad : Jika dia setuju maka akupun setuju.

Nafisah pergi menemui Khadijah untuk menyampaikan kabar gembira tersebut, sedangkan Muhammad al-Amin memberitahukan kepada paman-paman beliau tentang keinginannya untuk menikahi sayyidah Khadijah. Kemudian berangkatlah Abu Tholib, Hamzah dan yang lain menemui paman Khadijah yang bernama Amru bin Asad untuk melamar Khadijah bagi putra saudaranya, dan selanjutnya menyerahkan mahar.

Setelah usai akad nikah, disembelihlah beberapa ekor hewan kemudian dibagikan kepada orang-orang fakir. Khadijah membuka pintu bagi keluarga dan handai taulan dan diantara mereka terdapat Halimah as-Sa'diyah yang datang untuk menyaksikan pernikahan anak susuannya. Setelah itu dia kembali ke kampungnya dengan membawa 40 ekor kambing sebagai hadiah perkawinan yang mulia dari Khadijah, karena dahulu dia telah menyusui Muhammad yang sekarang menjadi suami tercinta.

Maka jadilah Sayyidah Quraisy sebagai istri dari Muhammad al-Amin dan jadilah dirinya sebagai contoh yang paling utama dan paling baik dalam hal mencintai suami dan mengutamakan kepentingan suami dari pada kepentingan sendiri. Manakala Muhammad mengharapkan Zaid bin Haritsah, maka dihadiahkanlah oleh Khadijah kepada Muhammad. Demikian juga tatkala Muhammad ingin mengambil salah seorang dari putra pamannya, Abu Tholib, maka Khadijah menyediakan suatu ruangan bagi Ali bin Abi Tholib radhiallâhu 'anhu agar dia dapat mencontoh akhlak suaminya, Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam.

Perlu kita ketahui bersama, bahwa ada beberapa perbedaan pendapat terkait umur Khadijah ketika menikah dengan Rasulullah. Dan kami berpendapat bahwa Khadijah berumur 26 atau 27 tahun (lebih tua dari Rasulullah terpaut 1-2 tahun).
Allah memberikan karunia pada rumah tangga tersebut berupa kebehagaian dan nikmat yang berlimpah, dan mengkaruniakan pada keduanya putra-putri yang bernama al-Qasim, Abdullah, Zainab, Ruqqayah, Ummi Kalsum dan Fatimah.

Kemudian Allah Ta'ala menjadikan Muhammad al-Amin ash-Shiddiq menyukai Khalwat (menyendiri), bahkan tiada suatu aktifitas yang lebih ia sukai dari pada menyendiri. Beliau menggunakan waktunya untuk beribadah kepada Allah di Gua Hira' sebulan penuh pada setiap tahunnya. Beliau tinggal didalamnya beberapa malam dengan bekal yang sedikit jauh dari perbuatan sia-sia yang dilakukan oleh orang-orang Makkah yakni menyembah berhala dan lain –lain.

Sayyidah ath-Thahirah tidak merasa tertekan dengan tindakan Muhammad yang terkadang harus berpisah jauh darinya, tidak pula beliau mengusir kegalauannya dengan banyak pertanyaan maupun mengobrol yang tidak berguna, bahkan beliau mencurahkan segala kemampuannya untuk membantu suaminya dengan cara menjaga dan menyelesaikan tugas yang harus dia kerjakan dirumah. Apabila dia melihat Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam pergi ke gua, kedua matanya senantiasa mengikuti suaminya terkasih dari jauh. Bahkan dia juga menyuruh orang-orang untuk menjaga beliau tanpa mengganggu suaminya yang sedang menyendiri.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tinggal di dalam gua tersebut hingga batas waktu yang Allah kehendaki, kemudian datanglah Jibril dengan membawa kemuliaan dari Allah sedangkan beliau di dalam gua Hira' pada bulan Ramadhan. Jibril datang dengan membawa wahyu. Selanjutnya beliay Nabi Shalallahu 'alaihi wa salam keluar dari gua menuju rumah beliau dalam kegelapan fajar dalam keadaaan takut, khawatir dan menggigil seraya berkata: "Selimutilah aku ….selimutilah aku …".

Setelah Khadijah meminta keterangan perihal peristiwa yang menimpa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, beliau menjawab:"Wahai Khadijah sesungguhnya aku khawatir terhadap diriku".

Maka Istri yang dicintainya dan yang cerdas itu menghiburnya dengan percaya diri dan penuh keyakinan berkata: "Allah akan menjaga kita wahai Abu Qasim, bergembiralah wahai putra pamanku dan teguhkanlah hatimu. Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, sungguh aku berharap agar anda menjadi Nabi bagi umat ini. Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selamanya, sesungguhnya anda telah menyambung silaturahmi, memikul beban orang yang memerlukan, memuliakan tamu dan menolong para pelaku kebenaran.

Maka menjadi tentramlah hati Nabi berkat dukungan ini dan kembalilah ketenangan beliau karena pembenaran dari istrinya dan keimanannya terhadap apa yang beliau bawa.

Namun hal itu belum cukup bagi seorang istri yang cerdas dan bijaksana, bahkan beliau dengan segera pergi menemui putra pamannya yang bernama waraqah bin Naufal, kemudian beliau ceritakan perihal yang terjadi pada Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam. Maka tiada ucapan yang keluar dari mulutnya selain perkataan: "Qudus….Qudus…..Demi yang jiwa Waraqah ada ditangan-Nya, jika apa yang engkau ceritakan kepadaku benar,maka sungguh telah datang kepadanya Namus Al-Kubra sebagaimana yang telah datang kepada Musa dan Isa, dan Nuh alaihi sallam secara langsung. Tatkala melihat kedatangan Nabi, sekonyong-konyong Waraqah berkata: "Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, Sesungguhnya engkau adalah seorang Nabi bagi umat ini, pastilah mereka akan mendustakan dirimu, menyakiti dirimu, mengusir dirimu dan akan memerangimu. Seandainya aku masih menemui hari itu sungguh aku akan menolong dien Allah ". Kemudian ia mendekat kepada Nabi dan mencium ubun-ubunnya. Maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: " Apakah mereka akan mengusirku?". Waraqah menjawab: "Betul, tiada seorang pun yang membawa sebagaimana yang engkau bawa melainkan pasti ada yang menentangnya. Kalau saja aku masih mendapatkan masa itu …kalau saja aku masih hidup…". Tidak beberapa lama kemudian Waraqah wafat.

Menjadi tenanglah jiwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala mendengar penuturan Waraqah, dan beliau mengetahui bahwa akan ada kendala-kendala di saat permulaan berdakwah, banyak rintangan dan beban. Beliau juga menyadari bahwa itu adalah sunnatullah bagi para Nabi dan orang-orang yang mendakwahkan dien Allah. Maka beliau menapaki jalan dakwah dengan ikhlas semata-mata karena Allah Rabbul Alamin, dan beliau mendapatkan banyak gangguan dan intimidasi.

Adapun Khadijah adalah seorang yang pertama kali beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan yang pertama kali masuk Islam.

Beliau adalah seorang istri Nabi yang mencintai suaminya dan juga beriman, berdiri mendampingi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang dicintainya untuk menolong, menguatkan dan membantunya serta menolong beliau dalam menghadapi kerasnya gangguan dan ancaman sehingga dengan hal itulah Allah meringankan beban Nabi-Nya. Tidaklah beliau mendapatkan sesuatu yang tidak disukai, baik penolakan maupun pendustaan yang menyedihkan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali Allah melapangkannya melalui istrinya bila beliau kembali ke rumahnya. Beliau (Khadijah) meneguhkan pendiriannya, menghiburnya, membenarkannya dan mengingatkan tidak berartinya celaan manusia pada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan ayat-ayat Al-Qur'an juga mengikuti (meneguhkan Rasulullah), Firman-Nya:
"Hai orang-orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Rabb-Mu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabb-Mu, bersabarlah!"(Al-Muddatstsir:1-7).

Sehingga sejak saat itu Rasulullah yang mulia memulai lembaran hidup baru yang penuh barakah dan bersusah payah. Beliau katakan kepada sang istri yang beriman bahwa masa untuk tidur dan bersenang-senang sudah habis. Khadijah radhiallâhu 'anha turut mendakwahkan Islam disamping suaminya -semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada beliau. Diantara buah yang pertama adalah Islamnya Zaid bin Haritsah dan juga keempat putrinya semoga Allah meridhai mereka seluruhnya.
Mulailah ujian yang keras menimpa kaum muslimin dengan berbagai macam bentuknya,akan tetapi Khadijah berdiri kokoh bak sebuah gunung yang tegar kokoh dan kuat. Beliau wujudkan Firman Allah Ta'ala: "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: 'Kami telah beriman', sedangkan mereka tidak diuji lagi?" . (Al-'Ankabut:1-2).

Allah memilih kedua putranya yang pertama Abdullah dan al-Qasim untuk menghadap Allah tatkala keduanya masih kanak-kanak, sedangkan Khadijah tetap bersabar. Beliau juga melihat dengan mata kepalanya bagaimana syahidah pertama dalam Islam yang bernama Sumayyah tatkala menghadapi sakaratul maut karena siksaan para thaghut hingga jiwanya menghadap sang pencipta dengan penuh kemuliaan.

Beliau juga harus berpisah dengan putri dan buah hatinya yang bernama Ruqayyah istri dari Utsman bin Affan radhiallâhu 'anhu karena putrinya hijrah ke negeri Habsyah untuk menyelamatkan diennya dari gangguan orang-orang musyrik. Beliau saksikan dari waktu ke waktu yang penuh dengan kejadian besar dan permusuhan. Akan tetapi tidak ada kata putus asa bagi seorang Mujahidah. Beliau laksanakan setiap saat apa yang difirmankan Allah Ta'ala : "Kamu sungguh-sungguh akan duji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberikan kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang di utamakan ". (Ali Imran:186).

Begitulah Sayyidah mujahidah tersebut telah mengambil suaminya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai contoh yang paling agung dan tanda yang paling nyata tentang keteguhan diatas iman. Oleh karena itu, kita mendapatkan tatkala orang-orang Quraisy mengumumkan pemboikotan mereka terhadap kaum muslimin untuk menekan dalam bidang politik, ekonomi dan kemasyarakatan dan mereka tulis naskah pemboikotan tersebut kemudian mereka tempel pada dinding ka'bah; Khadijah tidak ragu untuk bergabung dengan kaum muslimin bersama kaum Abu Thalib dan beliau tinggalkan kampung halamannya untuk menempa kesabaran selama tiga tahun bersama Rasul dan orang-orang yang menyertai beliau menghadapi beratnya pemboikotan yang penuh dengan kesusahan dan menghadapi kesewenang-wenangan para penyembah berhala. Hingga berakhirlah pemboikotan yang telah beliau hadapi dengan iman, tulus dan tekad baja tak kenal lelah. Sungguh Sayyidah Khadijah telah mencurahkan segala kemampuannya untuk menghadapi ujian tersebut di usia 65 tahun. Selang enam bulan setelah berakhirnya pemboikotan itu wafatlah Abu Thalib, kemudian menyusul seorang mujahidah yang sabar -semoga Allah meridhai beliau- tiga tahun sebelum hijrah.

Dengan wafatnya Khadijah maka meningkatlah musibah yang Rasul hadapi. Karena bagi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Khadijah adalah teman yang tulus dalam memperjuangkan Islam.

Begitulah Nafsul Muthmainnah telah pergi menghadap Rabbnya setelah sampai pada waktu yang telah ditetapkan, setelah beliau berhasil menjadi teladan terbaik dan paling tulus dalam berdakwah di jalan Allah dan berjihad dijalan-Nya. Dalam hubungannya, beliau menjadi seorang istri yang bijaksana, maka beliau mampu meletakkan urusan sesuai dengan tempatnya dan mencurahkan segala kemampuan untuk mendatangkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Karena itulah beliau berhak mendapat salam dari Rabb-nya dan mendapat kabar gembira dengan rumah di surga yang terbuat dari emas, tidak ada kesusahan didalamnya dan tidak ada pula keributan didalamnya. Karena itu pula Rasulullah bersabda: "Sebaik-baik wanita adalah Maryam binti Imran, sebaik-baik wanita adalah Khadijah binti Khuwailid".

Ya Allah ridhailah Khadijah binti Khuwailid, As-Sayyidah Ath-Thahirah. Seorang istri yang setia dan tulus, mukminah mujahidah di jalan diennya dengan seluruh apa yang dimilikinya dari perbendaharaan dunia. Semoga Allah memberikan balasan yang paling baik karena jasa-jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin.
Tags: sirah nabawiah
Prev: Istri Rasulullah 'Aisyah Binti Abu Bakar Rodhiallahu 'Anha
Next: Aliran Ahmadiyyah

'Ajarkan Kepadaku,Ya Rasulullah,Tentang Nama Allah"


'Aisyah,Ummul Mukminin ra, suat kali berkata kepada Rasullulah."Ya Rasulullah,ajarkan kepadaku tentang nama Allah,yang apabila aku menyebut nama_Nya dalam doaku,maka doaku akan terkabul.
Rasulullah menhawab:pergilah berwudhu dan masuklah ke dalam masjid dan shalatlah 2 rakaat.Berdoalah sesudah shalat,dengan suara yang aku dapat mendengarnya.
Mendengar apa yang dianjurkan oleh Rasulullah itu,Aisyah pun melakukannya.
Ketika Aisyah ra duduk berucap doa yang juga dapat didengarkan oleh Rasulullah,maka beliaupun ikut berdoa pula,dengan ucapan:Ya Allah,karuniakanlah baginya taufik".
Kemudian Aisyah melanjutkan pula doanya;"Ya Allah,aku memohon dengan segala nama-Mu Al-Husna,baik yang telah kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui.Aku memohon dengan nama-Mu yang Maha Agung dan paling Agung,Yang Maha Besar dan Paling Besar,yang barangsiapa berdoa dengannya akan Engkau kabulkan dan barangsiapa memohon dengannya akan Engkau berikan"
Rasulullah menyambut doa Aisyah ra,tersebut dengan sabda beliau:"Doanya mengena.....mengena...
Aisyah memang mengenal Tuhannya dengan baik.Ia menemukannya dalam nama-nama yang indah.Ia memperolehnya karena doa Rasulullah,yang memohonkan taufik bagi Aisyah,istri beliau tercinta.

Senin, 25 Mei 2009

"berilah syafaat pada kami Ya Rasulullah...



"sampaikan salamku Ya Rasulullah....



"Ya Kekasih Allah......



"Tuhan Allah.."

Di dalam aula sebuah sekolah terlihat beberapa orang siswa sedang asyik berbincang-bincang dan bertukar pendapay.Yang tengah mereka bicarakan adalah masalah Asmaa Allah Alhusna.
Terdengar Abdullah berkata:"Apabila kita berfikir tentang diri kita dan alam semesta yang membentang tak terhingga di sekeliling kita ini,maka kita akan dapat melihat Allah,Tuhan kita di dalam semuanya itu dan dengan demikian kita dapat mencapai hakekat nyata yang sesungguhnya."
"siapakah sebenarnya yang telah menjadikan untuk kita pendengaran,penglihatan dan hati?"
"siapakah yang telah menghidupkan dan akan mematikan kita?"
"siapakah yang telah memberikan makanan dan minuman kepada kita dan menyembuhkan mereka,kalau mereka jatuh sakit?"
"Allah....Allah....Allah....,jawab spontan,..mendengar jawaban spontan,Abdullah berseri-seri penuh kegembiraan.

Kemudian Abdullah melanjutkan pembicaraannya:'sejak dahulu manusia selalu saja memandang ke arah langit,menyapu seluruh bentangan langit yang tak terhingga itu dengan pandangannya,mencari-cari dan berusaha menemukan Allah.
Nabi Musa alaihissalam pernah memohon kepada Allah swt agar ia dapat melihat_Nya,dengan ucapan beliau:Ya Tuhan,nampakkanlah diri Engkau kepadaku,agar aku dapat melihat kepada Engkau"
Mendapatkan permohonan hamba_Nya itu,Allah swt berfirman: Kamu sekali-sekali tidak sanggup melihat_Ku".
Selanjutnya Allah swt berfirman :

'Dan apabila hamba-hamba_ku bertanya kepadamu ttg aku,maka jawablah
bahwasanya aku adalah dekat,Aku mengabulkan permohonan orang yang
mendoa,apabila ia berdoa kepada_Ku"

Tiap orang dari hamba-hamba Allah,yang mukhlisin,mempunyai kata rahasia yang dapat membuka semua pintu langit.Cukup menyeru dengan kata itu dan pintu-pintu yang tertutup dihadapan kita akan terbuka..subhanallah....ucapkan "Ya Allah",maka ucapkan itu akan menggema di cakrawala dan alam semesta yang luas tak berhingga ini serta akan membuka semua pintu yang tertutup....Allahu Akbar....

Sesungguhnya Allah mendengar serta melihat segala ucapan dan perbuatan kita,dan yang paling mengenal Allah hanyalah Allah sendiri..
Cobalah usahakanlah agar kita selalu dan senantiasa dalam keadaan yang mempunyai hubungan dengan Allah.Cukup kiranya itu dengan setiap waktu menggerakkan lidah,mulut,dan nafas kita untuk menyebutkan empat buah huruf,huruf-huruf yang membentuk nama_Nya yaitu:Alif,lam,lam dan ha' dan setelah huruf-huruf itu terucap dalam sebuah rangkaian secara tulus dan ikhlas,tentulah kita akan merasa lega dan tenang.
Apabila ada rasa kebahagiaan yang menyusup kedalam hati dan jiwa kita,ketika kita melakukan dialog dengan Allah di dalam segala urusan kita,segeralah bermohon kepada_Nya.Sebutlah nama_Nya dan pasti kita akan menemukan Allah di hadapan kita.Kita akan melihat dan merasakan adanya cahaya nur Allah di dalam hati kita.
Semuanya,apa saja yang kita rasakan,katakan,lakukan akan sampai kepada Allah,karena Dia lebih dekat daripada urat leher kita sendiri.Mohonlah kepada Allah,niscaya akan dikabulkan.
Selama masih ada terasa adanya kehangatan iman di dada,selalulah hubungkan diri kita dengan Allah.Dan apabila mulai terasa iman mendingin,terasa diri dan jiwa menjauh dari Allah,maka tidak ada satu manusia pun yang dapat menolong kita,kecuali diri kita sendiri.
Oleh karena itu bersihkanlah hati dan kalbu kita dari segala sifat benci dan dengki dan sebaliknya isilah ia dengan rasa cinta dan kasih sayang.
Carilah Allah dalam relung-relung hati kita sendiri,oleh karena sesungguhnya hati seorang mukmin merupakan singgasana Allah...jagalah selalu perintah dan larangan Allah,maka pasti kita senantiasa akan di pelihara oleh Allah.